Minggu, 28 Juli 2013

Renungan di Bulan Ramadhan


“Jadi orang aktif itu menyenangkan, tapi susah dijalanin”. Itulah sepenggal kalimat yang meluncur dari mulutku setelah apa yang saya lakukan dan hadapi saat ini. Mungkin sudah setting-an pabriknya kalau saya ini senang melakukan banyak kegiatan dan ikut terlibat aktif dalam suatu aktifitas positif.  Mungkin jiwa aktif berorganisasi yang saya miliki merupakan warisan dari ibu. Ibu yang sangat kukenal adalah orang yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan baik di tempatnya bekerja maupun di keluarga. Ketika ibu masih muda, banyak aktif dalam kegiatan seperti pramuka sehingga darah ke-aktifannya dalam suatu kegiatan kini mengalir juga dalam diriku. Saya senang melakukan banyak aktifitas baru, apalagi melakukan aktifitas yang menunjang kemajuan hidupku di masa depan. Kata orang lain saya itu orangnya dinamis dan ingin terus bergerak. Makanya saya kadang menjadi gelisah ketika suatu waktu tidak ada aktifitas yang bisa saya lakukan ataupun ketika saya merasa bosan dengan aktifitas yang monoton. Kegelisahanku memang sedikit aneh, saya senang bila setiap waktu yang saya miliki diisi dengan aktifitas yang bermanfaat. Namun, tidak semua rencana yang indah itu dapat dijalani dengan baik-baik saja, selalu ada hambatan dan rintangan. Termasuk saya pribadi yang mengalaminya.
Menjadi kepercayaan semua orang adalah investasi yang sangat tidak ternilai harganya. Namun kadang ini menjadi boomerang bagiku. Karna ingin menciptakan kepercayaan di mata semua orang, saya rela memberikan waktu saya untuk melakukan kerjasama ataupun melakukan suatu aktifitas bersama dengan orang lain agar tumbuh suatu penilaian positif terhadapku. Sulit sekali bagi saya untuk berkata “TIDAK” pada ajakan/tawaran orang lain. Selalu ada ketakutan dalam benakku bila saya menolak ajakan/tawaran orang lain. Karena mindset seperti ini pula, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengabdi kepada orang lain sampai saya lupa kewajiban terhadap diri saya sendiri bahkan terhadap agama dan keluarga.
Hingga saat ramadhan-pun tiba, saya masih sibuk melakukan dan mengejar urusan duniawi. Padahal inilah waktunya untuk saya memohon ampun kepada Allah dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya amalan untuk bekal di akhirat kelak. Saya tahu selalu banyak godaan yang menghampiri. Saya kecewa terhadap diri saya sendiri, saya juga mengecewakan orang tua, teteh, sahabat dan teman-teman. Mungkin istilah “semua yang berlebihan itu tidak baik” adalah benar. Aktifitas yang saya jalani mungkin terlalu banyak untuk dilakukan. Hingga kadang tubuh ini tak sanggup untuk memikulnya, hingga otak ini tak sanggup lagi memikirkannya. Tapi, saya bingung mana yang harus saya relakan. Di suatu sisi ada kewajiban yang harus saya lakukan, disisi lain ada aktifitas yang membuat saya senang, juga di sisi lainnya ada aktifitas yang mampu membantuku untuk meringankan beban orang tua. Saya kadang sibuk dengan sebuah aktifitas hingga hubungan saya dengan orang lain menjadi terganggu.
Berkeluh kesah adalah tidak baik, namun terkadang dapat menjelaskan apa yang sedang kita rasakan. Baik berkeluh kesah dengan keadaan, dengan situasi atau dengan apapun. Dari mulai berkeluh kesah kepada teman, kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada orang lain. Tapi itulah resiko yang harus diambil. Kuliah di semester pendek yang tidak begitu bagus pelaksanaanya, namun terus berharap menjadi orang yang beruntung pada saat ujian hingga mendapat nilai yang baik. Kegiatan latihan di marching band yang banyak membuang waktu dan tenaga dengan progress kemajuan yang sedikit dan sering bentrok dengan kuliah. Kegiatan drumband yang membuat saya berstatus atlit yang menuntut tanggung jawab serta profesionalisme yang juga jadwalnya bentrok dengan kuliah sama seperti marching band. Dan kasihannya saya lebih cenderung untuk datang berlatih dan merelakan waktu kuliah. Kegiatan himpunan yang banyak menuntut tangung jawab serta kebersamaan membuatku harus banyak merelakan waktu istirahatku, dengan banyaknya proker yang saya pegang menuntutku untuk memikul tanggung jawab yang besar. Juga beberapa proyekan dari dosen yang belum juga berhasil saya taklukkan karena banyak sekali hambatan. Ini merupakan sebuah konsekuensi yang harus saya terima karena meng-iyakan banyak tawaran. Alasannya, ada yang karena kewajiban, karena manfaat yang akan diraih, karena hobi, karena mencari uang, dll. Namun didalam kemelut yang sedang saya rasakan, ada beberapa hal yang selalu menguatkanku untuk terus berusaha, terus bersabar dan terus bersemangat dalam menjalani hari-hari yang padat. Kalimat dukungan serta motivasi dari teteh yang tak pernah lelah menyemangatiku, walaupun sering terabaikan olehku karena kesibukkanku. Saya minta maaf. Juga karena seseorang yang saya cintai, bayangannya terus mengisi benak  dan perasaan, senyum di wajahnya memberikan banyak harapan dan kekuatan untuk saya terus berjuang sekuat tenaga memberikan yang terbaik. Walaupun dia belum tentu memiliki perasaan yang sama terhadap saya. Tapi saya terus berdoa agar Allah memberikan jalan dan kesempatan untuk saya menjadi pendamping hidupnya kelak.
Untuk saat ini, tak banyak yang saya tuntut. Uas didepan mata sudah menanti dengan harapan yang sama yaitu bisa lulus dengan nilai minimal B, proyek yang masih belum terselesaikan, latihan yang rutin dilakukan, proker himpunan yang belum ditaklukkan, dll. Ada sebuah ketakutan yang saya rasakan. Mungkin ini akibat saya yang melalaikan perintah Allah. Ada sebuah hadits yang sangat memberikanku pelajaran sekaligus memberikan peringatan keras. Beginilah bunyi hadits tersebut.

“Barang siapa bangun di pagi dan hanya dunia yang dipikirannya, sehingga ia seolah tidak melihat hak Allah dalam dirinya. Maka Allah akan tanamkan 4 penyakit:
1.    Kebingungan dan kesedihan yang tiada putusnya.
2.    Kesibukkan yang tidak ada habisnya.
3.    Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi.
4.    Dan khayalan yang tidak pernah sampai.” (HR. Thabrani)

Ini menjadi renungan bagi saya pribadi, juga menjadi bahan evaluasi serta introspeksi diri dengan apa saja yang telah saya lakukan dan terjadi kepada saya. Bisa jadi kesibukkan yang saya alami adalah buah karena saya melupakan Allah, atau juga banyak kebutuhan saya yang tidak terpenuhi karena saya banyak melalaikan perintah Allah. “Ya Allah janganlah engkau tutup mata hati hamba dari segala nikmat-MU, jadikanlah setiap waktu yang hamba miliki adalah ibadah juga aktifitas yang bermanfaat bagi hidup hamba kelak.”
Baca SelengkapnyaRenungan di Bulan Ramadhan

Selasa, 09 Juli 2013

Bala-Bala Ramadhan #1

Alhamdulillah..syukur ku ucapkan kepada Allah atas nikmat hidup yang DIA berikan kepada hambanya seperti aku ini. Nikmat usia yang sungguh luar biasa rasanya tak dapat dibandingkan dengan apapun, apalagi nikmat kesempatan dapat berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadhan. Raja dari segala bulan dan obat dari sepanjang tahun. Mungkin diantara kita semua sudah mengetahui beberapa bahkan banyak keutamaan dari bulan Ramadhan ini. Mulai dari setiap nafas kita adalah tasbih, tidur kita adalah ibadah dan semua ibadah yang dilakukan pada bulan ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Dan kita semua tahu bahwa di bulan suci ramdhan itu terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, bila mana kita beribadah di malam tersebut maka sungguh balasan yang luar biasa dari Allah bagi yang menjalankannya.
          
 Bagiku ramadhan mempunyai esensi khusus. Bagiku ramadhan adalah sebuah bulan untuk melatih diri, dimana pada masa latihan inilah kita mendapat banyak keuntungan. Dari mulai berpuasa menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, bukan semata-mata mengosongkan perut dan mengurangi asupan mineral dan nutrisi, melainkan membiasakan diri  dalam keadaan lapar. Karena dengan lapar maka nafsu dan emosi kita juga akan berkurang, nafsu syahwat kita apalagi. Maka berawal dengan tidak makan dan minum kita mendapatkan banyak manfaat. Mungkin ketika kecil masalah terbesar kita dalam berpuasa adalah menahan lapar dan dahaga, namun realitanya ketika kita beranjak puber hingga remaja seperti sekarang ini tantangan terberatnya adalah menahan diri dari hawa nafsu, baik itu nafsu syahwat, nafsu emosi, juga menahan indra yang kita miliki dari hal-hal yang tidak sebaiknya kita terima. Seperti menjaga mata dari pemandangan yang negative, menjaga telinga dari ucapan yang tidak baik (ghibbah,fitnah,dll), menjaga tangan dari sentuhan yang dilarang. Maka hal-hal tadi lah yang sebenarnya lebih sulit menjaganya dibanding menjaga diri dari lapar dan dahaga.
         
 Ramadhan adalah tambang emas yang tidak akan pernah habis. Semangat untuk terus beribadah selama ramadhan dapat tetap terjaga apinya tetap menyala hingga akhir ramadhan, walaupun terang redup api menyala. Karena Syaitan dibelenggu selama ramadhan, yang mengganggu dan menghalangi kita untuk tetap beribadah adalah rasa malas kita sendiri. Itulah yang sebenarnya harus kita lawan. Musuh terberat yang kita miliki adalah melawan rasa malas diri kita sendiri. Sulitnya untuk melangkahkan kaki ke mesjid untuk shalat berjamaah dan memilih tidur dengan beralasan bahwa selama ramadhan tidur merupakan ibadah adalah alasan klasik yang sering aku dengar bahkan aku alami sendiri. Secara logika kalau di ibaratkan ramadhan adalah tambang emas yang tak pernah habis, maka dengan waktu yang kita miliki,tenaga yang kita punya, kesempatan yang ada kita akan menggarap tambang emas itu menjadi tumpukkan emas pahala bagi bekal kita kelak di akhirat. Bila waktu yang ada disia-siakan maka merugilah kita.

 1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.      ( Q.S Al-Ashr : 1-3 )


Pada ramadhan ini banyak sekali harapan dan cita-cita yang ingin kucapai. Mulai dari meningkatkan kualitas diri terhadap Allah menjadi lebih baik, meningatkan kapasitas ilmu yang dimiliki dengan tsaqofah-tsaqofah islam, menghatamkan al-quran, dll. Walaupun aktifitas shaum ini beriringan dengan aktifitas regular seperti biasa, saya harus tetap bisa menjaga kondisi. Mungkin akan terasa seperti bulan-bulan yang lain mungkin hanya suasananya saja yang berbeda. Kalaupun boleh membandingkan dari segi menahan lapar dan dahaga, lebih ringan menjalankan shaum di luar ramadhan dibanding di bulan ramadhan karena suasana ramadhan itu akan banyak terlihat orang-orang yang lemas dan kurang bersemangat, jadi pembawaan kepada diri kitanya juga menjadi lemas dan lunglai. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin sekali saya bagikan lewat tulisan ini. Mungkin untuk tulisan ini hanya sebatas sampai disini dulu saja, nanti kita lanjutkan dengan cerita selanjutnya di perjalanan ramadhan kali ini. Mohon di maklum karena aktiftas menulis itu tidak bisa dilepaskan dari yang namanya mood. Semoga Allah melancarkan segala ibadah kita di bulan ramadhan kali ini, dan semoga apa yang kita harapkan dapat tercapai. Amin
Baca SelengkapnyaBala-Bala Ramadhan #1

Kamis, 27 Juni 2013

Adik & Kakak

“Gimana sih rasanya punya adik/kakak?” Itulah pertanyaan yang biasa dan sering aku tanyakan kepada teman-temanku ketika kita berbincang mengenai kehangatan keluarga dan aktifitas mereka selama di rumah. Ada yang bilang menyenangkan namun tak sedikit juga yang bilang gak enak rasanya kalo punya adik/kakak. Dan alasannya pun bervariasi, kalau yang menyenangkan katanya suasana rumah menjadi lebih rame, bisa bercanda barang, main-main bareng, dll. Kalau alasan dari sisi yang kontra adalah lebih banyaknya karena sering di jailin, biasanya kakak ke adiknya, dan biasanya juga yang beda gender seperti kakaknya cowo dan adiknya cewe maka adiknya suka di jailin sama kakaknya, juga karena sering berebut maianan/makanan, saling iri bila ada beda masalah hadiah yang diberikan orang tua. Ada juga yang tidak pernah ngobrol diantara adik dan kakak, ada juga yang begitu aktif berhubungan dengan adik atau kakaknya. Namun walaupun begitu responnya, ada yang senang dan ada juga yang bilang gak enak, tapi kalian sudah mendapatkan point plus dan esensi sebuah ikatan. Apalagi mungkin yang sodara kembar, akan lebih dekat lagi ikatan batinnya. Sangat bervariasi sekali dinamika adik/kakak dalam suatu keluarga. Sering saya bertanya kepada siapapun yang saya temui dan berbincang santai mengenai adik/kakak. Ada yang punya adik saja (berarti dia anak sulung), ada yang punya kakak saja dan ga punya adik (berart dia anak bungsu), ada yang punya adik juga kakak (berarti dia ada di tengah). Dan gender dari adik dan kakaknya pun bervariasi, ada yang cowok semua, ada yang cewek semua, dan banyak juga yang cowo dan cewe. Juga perbedaan umur yang bervariasi. Ada yang deket bedanya sekitar 2-5 tahun, ada juga yang jauh bedanya sekitar 7-15 tahun. Bahkan saya pernah bertemu dan ngobrol dengan 4 orang saudara kandung yang pernah ikut dalam tim MB dalam waktu yang berbeda, dan ternyata orang tua mereka punya 17 anak.Yang saya temui adalah anak ke 10,11,12,13 (kalau saya gak salah). Subhanalallah.. Sungguh luar biasa sekali Allah menciptakan kita sebagai manusia dengan berbagai latar belakang dan berbagai variasi yang berbeda. Kalaupun ditulis dengan rumus peluang, akan banyak sekali kemungkinan yang akan terjadi. Ada sebuah pengalaman yang sangat berharga dan sendu yang pernah aku dapatkan. Aku punya seorang yang sudah aku anggap seperti kakak saya sendiri. Dalam banyak hal dia sering memberikan pelajaran hidup yang sebenarnya. Dia membagi pengalamannya kepadaku dan memberikan pelajaran apa saja yang sebaiknya aku lakukan. Panggil saja dia yana. Yana berusia hampir kepala tiga, tapi masih berstatus lajang. Yana juga mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Yudi dan sudah menikah. Suatu ketika istrinya yudi melahirkan. Aku dan a Yana pergi ke rumahnya a yudi untuk menengok. Tiba pada suatu situasi yang jarang. Ketika a yudi berbincang dengan a yana. Saya tahu pada saat itu keadaan keuangan a yudi sedang tidak baik bahkan harus cari pinjaman uang untuk membiayai biaya persalinan. Lalu kedua adik kakak tersebut bercerita tentang proses persalinan. A yana memberikan selamat kepada a yudi karena kini telah menjadi seorang ayah. Dengan muka sendu a yudi tak henti-hentinya mengucap maaf dan terima kasih kepada kami berdua. A yana lalu memberikan beberapa uang yang saya tahu adalah tabungannya kepada a yudi dengan niat untuk membantu kakaknya yang sedang kesulitan namun di sisi lain senang karna telah menjadi seorang ayah. Dan aku mendengar sebuah pernyataan yang membuatku bangga dengan mereka sebagai seorang adik/kakak yang saling menyayangi. A yana berkata “yud, geus tong sedih, ayeuna maneh geus jadi bapak, urang bangga ka maneh. Ayeuna mah urang ngan boga maneh,urang berjuang bareng,da ayeuna mah si bapa oge geus boga kaluarga sorangan, ayeuna tinggal urang jeung maneh nu kudu berjuang. Maneh nagbantu urang, urang ngabantu maneh. Geus ayeuna mah tong sedih.”(yud, sudah jangan sedih, sekrang kamu sudah jadi ayah, saya bangga ke kamu. Sekarang saya cumin punya kamu, kita berjuang bersama, karna sekarang si bapak juga sudah punya keluarga sendiri, sekarang hanya tinggal kamu dan saya yang berjuang. Kamu membantu saya, sayamembantu kamu). Keheningan malam itupun pecah. Seakan dada ini menahan sesak yang begitu kuat sehingga nafas berhembus tak karuan. Menggenaglah air di kedua mata. Yang aku tahu a yudi dan a yana adalah orang yang sangat luar biasa, dan ibunda dari mereka telah meninggal dunia sejak a yana masih anak kecil. Satu pelajaran yang sangat berharga yang aku dapatkan adalah betapa hebatnya kasih saying, perhatian dari seorang adik dan kakak yang berjuang untuk membahagiakan satu sama lainnya. Pengalaman tadi menjadi cambukkan untukku agar terus dapat menyayangi siapapun yang aku anggap kakak/adik. Namun untukku, fakta yang terjadi sedikit berbeda. Mungkin aku belum merasakan betapa asyiknya ketika adik/kakak bermain bersama, dan marah ataupun sebelnya ketika adik/kakak rebutan mainan dan makanan, dan nangis atau tertawa keras ketika adik/kakak saling pukul-pukulan, lempar bantal,dll. Yah, aku adalah seorang anak tunggal, bukan single bukan juga ganda campuran (kayak badminton saja). Benda-benda mati menjadi teman kecilku yang selalu setia aku ajak bermain. Hanya saja mereka tidak mempunyai perasaan, mereka dapat membuatku senang dan asyik bermain dengan mereka, namun mereka jarang sekali membuatku sedih bahkan menangis. Bagiku itu bukanlah suatu hal yang baik karena tidak seimbang anatar senng dan sedih. Dan beranjak dewasa pun aku terbiasa sendiri. Bukan dalam artian aku tidak memiliki teman di luar rumah, hanya saja teman di dalam rumah yang aku dapatkan belum cukup. Selain bapak yang selalu mengajakku bermain di tengah pekerjaannya di rumah sebagai pengrajin, mamah juga selalu mengajakku bermain di sekolah dasar islam tempat mamah dulu mengajar dan juga menjadi almamaterku sendiri. Ketika belum masuk sekolah, mamah selalu menuntunku berjalan melewati jalanan yang kecil dan pemukiman padat di daerah Cicadas. Mamah dan aku selalu berhenti di sebuah rumah yang di halaman rumahnya terdapat kolam ikan. Mamah selalu mengajakku untuk berhenti dan diam sejenak melihat ikan-ikan di kolam rumah tersebut. Dan itu sangat menyenangkan rasanya. Jangan kau tanya seberapa rindu aku pada masa-masa itu. Aku menemukan sosok adik/kakak di luar rumah. Aku bertemu banyak orang yang usianya diatasku dan juga dibawahku. Semua orang yang aku anggap baik aku anggap juga sebagai adik/kakak. Dan tahukan kamu apa yang membuatku senang? Yah,betul sekali, adalah ketika beberapa orang yang sering berbincang denganku, dan aku sering berbagi cerita hingga berbagi perasaan kepada mereka, dan mereka berkata “tenang saja, kamu itu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, jadi jangan ragu untuk berbagi cerita”. Aku banyak menemukan sosok adik/kakak di luar rumah. Dan kegiatanku lah yang mempertemukannya, mulai dari ekskul, hobi, sekolah/kuliah, dsb. Walaupun aku anak tunggal tidak berarti aku kehilangan sebuah esensi dari hubungan adik/kakak. Aku senang dan aku bangga bisa terus mendapatkan adik/kakak di luar sana. Aku bisa terus menjalin ikatan keluarga dan silaturahmi dengan banyak keluarga di luar sana. Dan yang aku tahu dalam keluarga,
walaupun adik dan kakak sering berantem, rebeutan mainan/makanan, iri satu sama lain, dan sering marahan, tapi sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lainnya. Adik menghormati kakak dan kakak menyayangi adiknya. Kakak akan membela adiknya ketika mereka di sakiti oleh orang lain, akan mendekap dan menenangkan adiknya ketika mereka ketakutan. Dan adik akan menghibur kakaknya ketika mereka sedih dan dalam masalah,akan mengajak kakaknya untuk kembali tersenyum. Itulah sebuah ikatan yang luar biasa. Sebuah mutualisme yang tidak akan pernah luntur dan habis oleh waktu, bahkan sampai ketika adik dan kakak memiliki keluarga baru. Maka bersyukurlah dan beruntunglah mereka yang memiliki adik/kakak baik dalam arti nyata ataupun konotasi.
Baca SelengkapnyaAdik & Kakak

Jumat, 07 Juni 2013

Filosofi Liburan (Goes to Sawarna #2)

Keputusanku membawaku ke suatu tempat yang memang seharusnya aku datangi. Suatu tempat yang bisa membebaskan kami sejenak dari rutinitas yang memberatkan pikiran. Sebuah tempat yang mampu meng install ulang isi pikiran sehingga kembali fresh. Pantai bukanlah sebuah opsi yang buruk, walaupun resikonya adalah kulit menjadi lebih gelap tapi kita tidak memperdulikannya.
          Perjalanan dimulai sejak rabu malam. Kami mempersiapkan diri untuk dapat berangkat sepagi mungkin agar sampai ke pantai sawarna secepat mungkin. Mengingat jarak yang cukup jauh dan perjalanan yang memakan waktu lama. Kami memutuskan bahwa kampus menjadi titik start keberangkatan kita. Beberapa diantara kami memutuskan untuk bermalam dikampus, karna khawatir tidak bisa bangun pagi dan juga ada yang rumahnya jauh dari kampus. Semua mempersiapkannya dengan baik. Mulai dari pakaiana ganti, peralatan mandi, kacamata, topi, serta perlengkapan penunjang sudah tertata rapih didalam tas besar yang dibawa masing-masing.
          Akhirnya jam 5 pagi semua sudah berkumpul. Walaupun meleset dari jadwal yang direncanakan, kami tetap semangat. Kami ber-12 orang siap berangkat dengan tas-tas besar bawaan dan juga wajah yang berseri-seri. Kami mencoba mengabsen diri sebelum berangkat, khawatir ada yang tertinggal dan lebih khawatir lagi kalo bertambah. Aku (Tahe) ; Faisallu ; Fei ; Abdul ; Ridha ; Kadek ; Sube ; Dimas ; Irsyad ; Mbak Zeda ; Mbak Aya ; dan birdita sudah fix dalam komposisi liburan kali ini. Kami pergi menggunakan 2 buah mobil yang bermerk sama hanya beda warna saja. Karna jumlahnya genap dan juga pas, kita membaginya rata menjadi 6 orang di mobil 1 dan 6 orang di mobil 2. Komposisi di dalam mobil 1 adalah : Sube ; Mbak Zeda ; Fei ; Ridha ; Abdul ; dan aku. Sedangkan di mobil 2 adalah ; Dimas ; Birdita ; Irsyad ; Mbak Aya ; Faisallu ; dan Kadek.
          Setiap jalanan yang kita lewati kita isi dengan canda dan tawa. Ada yang asyik bernyanyi mengikuti alunan lagu dari MP3 yang sedang diputar, ada yang tertidur pulas, ada juga yang hanya berdiam diri dan sangat menikmati pemandangan disamping jalan. Bermacam ekpresi diantara kita semua, namun  satu persamaan yang bisa terlihat diwajah kita semua, adalah kesenangan dan senyum yang terus bersinar. Melewati Padalarang – Cianjur – Sukabumi – Pelabuhan Ratu membuat kita merasa lelah hingga memutuskan untuk berhenti di beberapa titik. Sekedar untuk buang air, juga mengisi perut yang lapar dan tenggorokan yang dahaga, sekedar untuk merilex kan otot-otot yang pegal kami berhenti.
          Pantai pelabuhan ratu sudah nampak diluar kaca mobil kami. Biru air dan biru langit berpadu serasi dan terlihat tanpa celah. Ombak silih berganti berlarian menepi ke pantai. Angin berhembus cukup kencang membuat pohon kelapa seolah menyapa kadatangan kami dengan salam hangat dan lambaian tangan yang tiada henti. Tak henti-hentinya aku mengucap subhanallah dan syukur atas apa yang Allah ciptakan di bumi ini. Allah menciptakannya sempurna dan semuanya teratur dalam suatu hukum alam dengan segala kompleksitasnya. Rasa kagumku tak berhenti sampai disitu, ketika kami memutuskan untuk berhenti ditepi jalan yang dari titik tersebut akan terlihat sebuah pemandangan yag luar biasa. Birunya laut dan langit yang berpadu serasi di hiasi oleh putihnya awan yang menggantung juga kapal-kapal nelayan yang terlihat begitu kecil bagaikan semut yang bersandar di pinggir laut, Pegunungan yang berdiri gagah dengan diselimuti oleh pepohonan hijau menutupi sebagian pemandangan kami. Mereka seperti berbagi keceriaan dan kesenangan kepada kami. Sebagian menyuguhkan keindahan lewat warna dan sebagian lainya memberikan bentuk yang luar biasa. Sehingga tak sadar mulutku terus menganga dan lirih menyanyikan sebuah lirik lagu dari seorang penyanyi cilik. Sambil menikmati pemandangan mulutku terus bernyanyi “Langit biru, awan putih, terbentang indah lukisan yang kuasa; Oh sungguh senangnya lintasi bumi ; Oh indahnya dunia”.
          Akhrnya kita sampai juga ditempat tujuan. Sebelum menuju penginapan, kami disambut ramah oleh ibu pemilik penginapan. Namanya ibu Clara, itu bukan nama aslinya, Clara adalah nama anak perempuannya, biar mudah kami menyebutnya ibu Clara saja. Beristirahat sejenak dirumahnya. Selagi menarik nafas panjang kami makan siang bersama yang sudah dipersiapkan ibu Clara. Sambil makan sambil. Walaupun wajah kami  kumal, berminyak dan lelah namun kami selalu tersenyum dan tertawa.
          Sebelum sampai ke penginapan kami harus berjalan kurang lebih 300 meter. Jaraknya cukup jauh, dan cukup membuat kita engos-engosan dan bercucuran keringat karna kepanasan. Yang membuat aku senang dan seru adalah ketika kami harus melewati jembatan yang dibawahnya melintas aliran air sungai menuju laut. Yang serunya adalah jembatan tersebut adalah jembatan gantung yang terbuat dari kayu sebagai pijakan kaki kita yang diikat oleh kawat baja di pinggir-pinggirnya dan terhubung dari ujung ke ujung. Sebuah pengalaman luar biasa, dan sensasi berada diatasnya pun luar biasa. Semakin kita mempercepat langkah kita, maka jembatan itu akan bergoyang semakin kuat. Rasanya itu seperti berjalan diatas jembatan goyang.Ahaha… .
          Sesampainya dipenginapan, kami semua melepas lelah dengan merebahkan badan disetiap ruang kosong. Ada yang diatas kasur, ada diatas saung kecil, ada juga yang diatas ayunan yang berada diantara dua pohon. Semuanya terlelap dalam kibasan angin pesawahan yang membelai tubuh kami begitu halus. Sejenak kami terbawa ke alam bawah sadar. Semuanya gelap, terasa sejuk, terdengar suara angin yang berlarian bergantian arah, dan tubuhku terus bergoyang diatas ayunan.
          Sore hari, pantai menjadi tujuan utama kami. Semuanya begitu bersemangat, Ada yang ingin sekali berenang seperti irsyad. Dan kami semua berubah tampilan menjadi seperti anak pantai yang siap bermain air dan pasir di pinggiran sana. Jarak menuju pantai tak begitu jauh, kurang lebih 200 meter dari penginapan. Setelah sampai dipantai, semuanya buyar, semua spekulasi tentang gambaran suasana disana terjawab sudah dengan apa yang kami lihat dihadapan kami. Kami semua berlarian menuju air dan berenang kegirang disana. Saling melempar pasir kebadan, saling berlarian dikejar ombak. Terjatuh, tenggelam dalam air dan merasakan asinya air laut, membuat kami begitu dekat, tertawa kegirangan bersama, mengabadikan moment berharga ini dalam bidikan lensa kamera, saling bergaya, saling bercanda, dan saling berebut untuk minta di foto. Membuat lengkap perjalan liburan kami di pantai sawarna ini. Foto ini menjadi bukti kalau kami pernah datang ke tempat ini dan menuliskan cerita ceria, cerita cinta, dan cerita kebersamaan diantara kami.
          Senjapun tiba, dimulai ketika matahari memutuskan diri untuk menjauh dan menghentikan asupan sinarnya untuk sementara. Kamipun pulang menuju penginapan dan mandi. Setelah mandi, kami berkumpul di depan penginapan untuk makan malam bersama. Lelah akibat bermain di pantai membuat kami semua begitu lahap menyantap makanan yang telah disediakan bu clara lewat penjaga penginapan. Oh iya, selama dipenginapan kami ditemani oleh mas-mas yang ditugasi oleh bu clara untuk menjaga penginapan. Dialah orang yang selalu menyiapkan makanan untuk kami dari makan pagi, siang dan malam. Mas-mas itu juga sering memberikan informasi yang berharga kepada kami seputar pantai sawarna ini. Akhirnya malam jumat itupun  menjadi sangat panjang dan bermakna, walaupun sebenarnya aku suduh terlebih dulu  menuju alam bawah sadar dan menikmati indahnya mimpi. Namun sayup-sayup terdengar diluar sana suara faisallu, sube, fei, ridha yang sedang asyik main kartu. Aku tetap tak tergoda untuk bergabung bersama mereka, karena mata ini tidak memberikan toleransi sedikitpun untuk aku ajak menikmati malam bersama.
          Hari kedua tak jauh berbeda dari sebelumnya. Walupun hiburan kami hanya pantai, tapi kami tidak merasa bosan. Kita berenang, bermain air, berlarian di pinggir pantai, bermain bola, saling melempar pasir, berfoto menjadi aktifitas kami disana. Berjalan-jalan menyusuri pinggir pantai menuju suatu objek wisata baru yaitu Tanjung layar disebelah barat pantai sawarna. Sayangnya aku tidak ikut berpetualang bersama fei, ridha, faisallu, abdul dan kadek. Mereka lebih duluan menuju kesana dan mendapati beberapa tempat baru yang luar biasa, itu terlihat dari cerita mereka yang begitu semangat dan dimata mereka nampak sebuah pemandangan yang indah walaupun aku tidak merasakan secara langsung namun pikiranku sudah menerawang jauh kesana dari apa saja ilustrasi yang diceritakan oleh mereka. Hari kedua ini tepatnya har jumat membawa kita lebih sering berlama-lama dipantai ketimbang di penginapan. Setelah menikmati birunya langit dan indahnya sunset. Kami juga penasaran dengan suasana pantai dimalam hari. Aku, sube, ridha, fei, kadek, abdul, faisallu memutuskan untuk menuju pantai dimalam hari. Walaupun aku merasa khawatir dengan beberapa cerita menyeramkan, namun rasa penasaran dan ajakan mereka membuat rasa khawatir itu hilang. Dan ternyata, malam hari tidak kalah dari siang hari. Angin malam begitu erat memeluk tubuh kami dan suara ombak yang silih berganti menepi menjadi backsound obrolan kami malam itu. Dan semuanya terjaga dalam tidur mereka masing-masing beserta mimpi indahnya dibawah gelapnya malam dan senyum rembulan.
          Sabtu pagi, terdengar suara bising diluar sana. Suara orang-orang yang mengobrol dan suara langkah kaki mereka. Karena sabtu ini merupakan libur nasional, orang-orang mulai berdatangan menuju pantai sawarna. Ada yang menggunakan motor, mobil pribadi, juga ada yang menyewa minibus seperti kopaja. Dan penginapan kamipun mulai ramai dengan para tamu baru yang mengisi pondok lainnya yang ada di komplek penginapan kami. Terdengar berisik suara dari abdul yang membangunkan kami dan terus berteriak “Woyyy,,,hudang euy.. rek ningali sunsrise moal? Kaburu beurang engke sunrisena euweuh “(Woyy..bangun..mau pada liat sunrise gak? Nanti keburu siang trus sunrisenya hilang)”. Hanya beberapa diantara kami yang terbangun dan berjalan menuju pantai sisanya tak bisa diharapkan untuk bangun. Walaupun kami dipantai tidak menemukan sunrise karena tertutup oleh bukit tapi kita tetap menikmati pagi hari di pantai yang diguyur hujan rintik-rintik. Akhirnya kamipun kembali kepenginapan.
          Untuk terakhir kalinya kita memutuskan untuk berenang lagi kepantai sebelum kita pulang nanti siang. Aku kebingungan memilih pakaian, karena semua pakaianku sudah basah dan penuh pasir. Tapi tidak apalah menggunakan pakaian yang sama, toh nantinya juga dicuci bersih lagi kan. Pantai disaat itu seperti tidak biasanya, pantai ramai oleh orang-orang yang terus berdatangan. Namun kami semua tetap menikmati pantai ini dan seperti biasa kami berenang dan bermain air. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 kamipun pulang ke penginapan dan mandi. Setelah mandi tidak lupa semua perlengkapan yang kami bawa dibereskan dan dimasukkan kedalam tas. Dan siap untuk pulang. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kamipun berpamitan kepada si mas-mas penjaga penginapan yang begitu setia melayani kita.
Tidak lupa juga kepada ibu clara yang sudah menyiapkan penginapan dan makanan dan rela untuk kami tempati dan kami makan. Terima kasih juga kepada pantai sawarna yang sudah rela menemani kami selama liburan dan berbagi keindahan untuk bisa kami nikmati bersama dan juga rela sebagian darinya kami abadikan dalam bentuk foto. Terima kasih juga kepada sawah yang membentang luas nan hijau, Terima kasih juga kepada warga masyarakat disana yang begitu ramah dan mahal menekuk harga minuman botol menjadi 7 ribu rupiah. Terima kasih juga kepada jembatan gantung yang sudah rela punggungmu kami injak dan ikhlas berbagi kekuatan untuk kami agar bisa saling menguatkan diantara kami. Terima kasih semuanya. Terima kasih kepada Sube; abdul; ridha; faisallu; kadek; dimas; irsyad; fei; mbak zeda; mbak aya; dan birdita yang mewarnai liburanku kali ini. Kalian akan menjadi keluargaku yang akan selalu aku rindukan di masa depan. Banyak cerita yang kita torehkan atas perbuatan konyol kita, dan aku yakin cerita yang kita torehkan akan terus lucu dan membuat kita terpingkal-pingkal tertawa saat kita ceritakan lagi di masa depan. Semoga ini tidak menjadi liburan pertama dan terakhir kita. Masih banyak tempat indah yang harus kita kunjungi. Mereka menunggu kita untuk kita menorehkan cerita bersama mereka dan mengabadikannya lewat berfoto bersama. Inilah kami lab.metalurgi yang selalu ceria dan penuh tawa.
 



On The Way Mobil 1 (From L-R : Sube,Fei,Saya,Ridha,Mbak Zeda,Abdul (hide))
Di Penginapan

Karang Bokor
Bermain Air Bersama

Meluncur (Sube)

Belum ada judul

You know what i mean

Blue Sea and Blue Sky

Jejak cerita

Makan siang bersama

Jembatan Goyang

Keluarga Besar Lab. Metal (From L-R : Fei,Saya,Dimas,Birdita,Mbak Zeda,Sube,Irsyad,Mbak Aya,Abdul,Faisallu,Ridha)

Under The Sunset

Habis Gelap Terbitlah Terang
When we together

Hard Day's Night

Laugh


Highway to the beach

          

Baca SelengkapnyaFilosofi Liburan (Goes to Sawarna #2)

Rabu, 29 Mei 2013

Filosofi Liburan (Goes to Sawarna #1)

Liburan..liburan dan liburan. Kata-kata itu yang terus terngiang dalam kepala. Kenapa tidak? Kepala ini sudah begitu mumet dan pusing, rasanya semua beban berat dan segala limbah didalamnya ingin cepat di buang. Dan akhirnya liburan itupun tiba juga. Bagi saya liburan itu kebutuhan, bagaikan semua bayangan yang terus mengikuti langkah kita dibawah teriknya matahari, liburan akan menjadi menu penutup makan malam berupa kerja keras dan perjuangan saya selama awal 2013 hingga mei ini dan juga selama kuliah di semester  4 . Namun bagi saya juga liburan tidak harus selalu menunggu pekan dimana semua bentuk perkuliahan kosong. Ataupun menunggu terkumpulnya uang hingga sebanyak beras dalam satu karung, juga menunggu tanggal berwarna merah di kalender.
Everyday is holiday, setiap hari adalah liburan, liburan tidak harus di tanggal merah, liburan tidak harus pada libur sekolah atau kuliah, liburan tidak harus  selalu mengeluarkan uang banyak, liburan tidak perlu membawa banyak pakaian ganti, ataupun liburan tidak harus selalu bersama pacar.
Sedikit berfilosofi  mengenai liburan, bahwa liburan adalah suatu aktifitas yang dilakukan seseorang dalam rangka menghibur diri agar dirinya merasa senang hingga dia mendapatkan suatu ketenangan jiwa dan kenikmatan hasrat. Sebuah hasrat bermain dan menikmati semua hingar binger. Ketika kita lelah dengan semua kepalsuan hidup lalu kita tersenyum dan tertawa itu merupakan liburan. Ketika kita lelah dengan rutinitas yang monoton lalu kita mencoba Go Out itu merupakan liburan. Liburan memang sedikit mirip dengan hiburan atau bahkan miripnya banyak.hahaha… Yang pastinya ketika kita liburan hati ini harus merasa terhibur dan semua aspek yang ada harus mendukung tercapainya kesenangan jiwa.
Pada kesempatan yang emas ini, dimana waktu dan uang bertemu pada titik yang sama dan rencana sudah matang. Berangkatlah kita pada suatu tempat yang katanya sih indah dan kita menyebutnya sebagai liburan. Saya dan teman-teman asisten lab.metalurgi memutuskan untuk pergi liburan bersama. Dan tempat yang menjadi tujuan dari perjalanan indah ini adalah pantai. Yah, sebuah tempat yang begitu dekat dengan laut dan juga jarak matahari begitu dekat diatas kepala kita sehingga kulit kita dibuat coklat bahkan hitam karnanya. Sebuah pantai di selatan pulau jawa, tepatnya di selatan provinsi banten dan dekat sekali dengan perbatasan banten jawa barat. Sebuah pantai yang belum begitu banyak orang mengenalnya, bahkan mbah google pun belum begitu akrab dengannya. Dan sebuah survey dilakukan untuk mengecek tingkat keasingan pantai tersebut. Dan hasilnya adalah 6 dari 10 orang mengatakan “tidak tahu” mengenai pantai itu, jangankan bertanya apa saja yang ada disana. Baru menyebutkan namanya saja mereka sudah mengerutkan dahi, seolah-olah nama tersebut adalah nama sebuah ikan hias.hahahaha…
Yah Pantai Sawarna adalah tempat yang akan kita tuju. Dengan jarak kurang lebih 150 Km dari kota Bandung (maaf kalo salah namanya juga kurang lebih). Perjalanan yang jauh dan melelahkan membuat obsesi kita untuk menjelajahinya begitu besar dan berapi-api, hingga terjadi sebuah fenomena yang cukup aneh yaitu ketika kita masih berada diperjalanan namun pikiran dan khayalan kita sudah sampai duluan di panai sawarna. Seolah-olah meninggalkan raga, fantasy begitu cepet berlari mengalahkan waktu yang berjalan, menembus batas dan budaya. Inilah sebuah liburan akbar yang begitu kita nikmati. Tak ada perasaan takut maupun khawatir akan ini. Semuanya tenang, bahagia, senyum dan berseri-seri.
To be continue…….



View on the way to Sawarna

Peswahan disekitar penginapan Pantai Sawarna

Tanjung Layar (sebelah timur pantai Sawarna)

Secret way to sea

When we play together
Baca SelengkapnyaFilosofi Liburan (Goes to Sawarna #1)

Kamis, 16 Mei 2013

Seperti Bom Yang Meledak

          Alhamdulillahhirrobil alamin… Ucapan syukur tak hentin-hentinya keluar dari mulut ini. Mulut yang sudah lama menunggu untuk mengeluarkan ungkapan syukur dan bahagia. Setelah 5 bulan berjuang untuk beradaptasi dengan dunia perkuliahan yang semakin kompleks dan sekolah kehidupan yang menuju keadaan sebenarnya.
          Di semester genap ini ketika saya berstatus mahasiswa tingkat dua memang sangat berbeda dari semester sebelumnya. Terasa begitu berat untuk menjalaninya, banyak sesuatu baru yang belum saya alami sebelumnya, tapi tetep seru sih. Makanya gak salah kalau kita dapat mengukur tingkat kebahagian seseorang dalam menyelesaikan masalah itu dari seberapa besar dan seberapa banyak masalah yang dihadapi oleh kita. Semakin sulit dan kompleks masalah yang dihadapp maka akan semakain besar rasa bahagia dan rasa syukur yang dirasakan ketika kita mampu menyelesaikan dan melewati masalah tersebut dengan sukses.
          Pertama, di semester ini saya mendapatkan status baru dan juga tanggung jawab baru sebagai asisten laboratorium, otomatis saya harus membagi jatah waktu yang dimiliki untuk kuliah dan juga untuk laboratorium. Kebeltulan pada semester ini juga laboratorium dimana saya bernaung menyelenggarakan praktikum. Dan disemester ini juga saya mulai bekerja dan menjalankan tanggung jawab sebagai asisten yaitu mengajar saat praktikum, menilai presentasi praktikan, menilai tugas-tugas praktikan, dll. Dengan status baru ini, saya belajar banyak untuk bisa menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain dengan sharing ilmu yang saya miliki, belajar bertanggung jawab bagaiaman menjadi seorang pengajar dan pendidik yang baik, belajar untuk berkomunikasi dengan baik dengan praktikan(orang yang praktikum) maupun dengan sesama asisten. Selain itu juga saya mempunyai rumah baru yang bisa saya gunakan untuk beristirahat, mengobrol, bermain, bernyanyi, berkumpul, belajar, berbagi cerita dengan sesame asisten, rumah itu adalah ruang asisten laboratorium. Walaupun baru kenal 5 bulan, tapi saya nyaman untuk diam berlama-lama disana. Rumah baru itu banyak memberikan pelajaran berharga dari mulai persahabatan, komunikasi, keluarga baru, ilmu baru, pengalaman baru, dan juga cerita baru.
          Kedua, di semester ini saya mendapatkan tugas perkuliahan yang cukup membuat saya berfikir dan bekerja keras. Kalau boleh mendefinisikan secara bebas, menurut saya tugas ini seperti try out pertama saya dalam mengerjakan tugas akhir. Karena dalam tugas ini saya dituntut untuk mengamati suatu benda dan merancang ulang benda tersebut dengan perhitungan yang sudah pernah diajarkan di perkuliahan. Dari mulai survey ke benda langsung, memfotonya, menganalisanya hingga menghitung ulang spesisifikasinya. Dan yang membuat berbeda adalah tugas ini menuntut saya untuk selalu mengecheck hasil kerja dan mengkonsultasikannya ke dosen pembimbing. Ini mungkin seperti simulasi tugas akhir. Bagaiamana membuat laporan yang baik dan gambar benda dengan benar. Tugas ini sangat memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Mulai dari bagaiamana terjun langsung ke lapangan dan mengamati objek penelitian. Bagaiamana menyeusun sebuah analisa perancangan, bagaiaman cara berkomunikasi dengan dosen, bagaiaman mencari referensi yang sesuai, dan bagaiaman menyusun laporan yang baik benar,dll.
          Namun selain dari dua kegiatan diatas, masih banyak kegiatan yang setia menemani dan mewarnai hari indahku. Seperti kuliah, latihan marching band, membaca buku, bermain gitar, bernyanyi, hang out dengan teman-teman, minum kopi sambil mengobrol. Tapi di akhir tulisan ini,saya hanya ingin menegaskan bahwa banyak sekali hal positif yang bisa saya ambil dari sebuah situasi yang sulit, tetap berfikir positif dan sabar maka akan indah akhirnya. Tanpa meremehkan ataupun menyepelekan semua hal, hidup itu dinamis jadi nikmatilah setiap masa dan situasi yang kita alami walaupun buruk ataupun baik, karena dibalik itu semua Allah memliki rencana yang tak akan kita duga. Tetap berserah diri kepada Allah, percaya akan rencana yang DIA buat untuk kita semua, Kita hanya tinggal ikhtiar, tawakal, berdoa dan bersabar. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita, Amin
Baca SelengkapnyaSeperti Bom Yang Meledak

Senin, 29 April 2013

Seutas Harapan

Sudah lama tidak menulis dengan serius.Tidak menuliskan pikiran dari isi kepala yang benar-benar bagus,yang keluar hanyalah tulisan dari kejunuhan saja.Kini aku berjumpa dan bertatap muka lagi dengan si monitor,yang setia mengeluarkan output dari kalimat yang aku ketik di atas keyboard.Kenapa selalu begini rasanya?setiap aku berhadapan denganmu wahai keyboard dan monitor,hatiku menjadi tak karuan,pikiranku berlarian saling bertabrakan.Entah harus kucari kemana semua inspirasi tentang sesuatu yang akan aku tuliskan,yang aku dapatkan ketika melamun menunggu teman,ketika aku menunggangi si kuda besi di siang dan malam,ketika aku harus bertemu dengan kebosanan di ruang sempit dan ketika aku berjalan diatas bumi ini.Semua ide dan pikiran itu tiba-tiba hilang dan seperti malu untuk mempertontonkan batang hidungnya ketika dia bertemu keyboard dan monitor.Aku menjadi gugup dan tak bedaya dihadapan kalian (keyboard dan monitor).
Pernah aku menghadiri sebuah seminar mengenai membaca dan menulis.Dan aku menanyakan hal demikian kepada narasumbernya.Karena aku merasa itu sebuah tembok penghalang yang harus aku runtuhkan,bila tidak?maka aku akan merasa tersendat dan terjegal untuk terus menulis.Mungkin lebih baik menggunakan cara-cara klasik yang kita kuasai dan mungkin juga terbukti ampuh,ketimbang menggunakan teknologi modern yang sulit beradaptasi dengan kebiasaan kita.Yah,lebih baik aku menuliskannya diatas kertas,jadi ketika mendapatkan inspirasi,kertas dan pulpen lah yang akan aku cari,tak bisa dipercaya bila aku harus mengandalkan ingatanku yang terbukti kinerjanya menurun akibar konsumsi msg yang berlebih.Sebaiknya aku mengambil cara aman agar tidak nabrak pada dinding yang sama.
Sejujurnya aku begitu bersemangat untuk menulis,menceritakan semua hal-hal yang menarik yang pernah aku alami dan membagikannya kepada kalian semua,dan berharap kalian yang membacanya akan  terhibur dan suka hingga dapat mengambil inspirasi dari tulisanku.Juga aku begitu senang ketika aku dapat membuat tulisan sesuai dengan apa yang ada dalam benakku,dan tidak ada distorsi.Mungkin aku seharusnya lebih rajin lagi untuk mengerjakan hal-hal positif dan bermanfaat,ketimbang harus mengerjakkan sesuatu yang masih gelap untuk aku bayangkan di masa depan.Membaca merupakan jawaban dari ini semua,dulu aku sering membaca walaupun bukan seorang yang kutu buku juga sih,tapi aku jadi suka membaca sejak menginjak bangku institute,entah kenapa?tapi aku merasa menyesal juga sih,kok baru punya perasaan itu pas baru mendapat status sebagai mahasiswa,kenapa engga dari dulu?euhh..dasar..sudahlah.Penyesalan emang selalu datang terakhir sama seperti polisi di film-film bollywood.
Erat kaitannya membaca dan menulis bagaikan “rumah” dan “sakit” dan tak boleh dipisahkan,mereka akan terus bersatu hingga menjadi seperti kata “rumah sakit”.hahaha…gak nyambung,biarin yang penting minimal bisa menghibur diri sendiri.Ingin rasanya pergi ke toko buku dan banyak menghabiskna waktu disana atau engga pergi ke perpustakaan dan menghabiskan waktu disana untuk…….euhhh…untuk tidur..hahahah..yah untuk membaca lah ,tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk tidur.hahaha….Namun di semester genap ini rasanya sulit menemukan waktu luang, yang benar-benar free untuk saya habiskan untuk kepuasan diriku sendiri,ada waktu luang namun diisi oleh kegiatan pengabdian kepada orang lain.Bukannya tidak ikhlas atau gak suka juga,tapi adakalanya diri sendiri harus diperhatikan juga.Jadwal di semester ini sungguh padat,ditambah dengan kegiatan extra juga membuat porsi waktu untuk hobbi sedikit berkurang atau bahkan banyak hilang.Tapi yang pastinya aku harus melewati fase yang seperti ini,yah namanya juga dinamika kehidupan harus dinamis dan berubah ubah,dan aku senang.Kalo kata Papah Dave Grohl mah “When the wheels come down”.Jadi selanjutnya semua pekerjaan dan project yang tertunda dapat segera aku selesaikan dan semoga juga semuanya berjalan dengan baik.
Baca SelengkapnyaSeutas Harapan